Bidadari lampu merah

Mentari pagi malu-malu keluar dari pembaringannya. Ketika aku harus bergegas pergi ke kampus. Aku menyusuri jalan menuju kampus yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahku hanya sekitar 20 menit. Di depan pertokoan pandangan mataku tertuju pada seorang gadis kecil. Gadis itu sedang memandangi bahan makanan di sebuah toko. Seorang gadis kecil itu berpakaian lusuh dengan rambut panjang yang tak terawat. Di tangan gadis kecil itu ada sebuah gitar kecil dengan tali senar yang terbuat dari karet gelang. Dari situlah aku tahu ia adalah seorang pengamen di simpang dekat rumahku. Ia tampak begitu cantik saat kulihat senyum simpul dibibir munyilnya ketika aku bertanya
“ Adik sedang apa disini ?” Tanyaku
Ia hanya tersenyum dan pergi menuju lampu merah.
Aku mengikutinya dengan harapan mengetahui namanya.
“ Adik kecil, tunggu ” pintaku
Ia menghentikan larinya
“ Ada apa kak?”tanyanya lembut
“ Bisa bicara sebentar”
“ Bisa”
“ Nama kamu siapa?”
“ Aku anggi”
“ Nama kakak siapa?”
“ Panggil saja koko”
“ Berapa umurmu sekarang?
“ Baru sepuluh tahun kakak”
“ Kamu nga sekolah?”
“ Enggak kak”
“ Kenapa nga sekolah?”
“ Nenek nga mampu menyekolahkanku”
“ Nenek?”
“Iya, orang tuaku udah meninggal kak”
“ Apa dulu kamu pernah sekolah?”
“ Pernah, dulu waktu ayah dan ibu masih hidup aku sekolah tapi sejak kecelakaan kereta api itu terjadi aku nga bisa sekolah lagi”
“ Kakak mau kemana?”
“ Oh, ya. Kakak harus pergi kuliah sekarang. Nanti siang kita ketemu lagi ya disini”
“ Baiklah kak”
Setelah itu aku melanjutkan perjalananku menuju kampus.

Setelah pulang kuliah
Aku membawa sebungkus nasi dan menemukan anggi sedang mengamen disalah satu angkutan kota. Aku memperhatikannya gadis kecil yang sekuat baja itu. Aku takjub pada keikhlasan dan ketegaran yang ia miliki. Ketika ia telah siap mengamen aku mendatanginya
“ Anggi udah makan?” Tanyaku
“ Belum kakak”
“ Ini kakak bawain nasi dimakan ya?” Ujarku seraya memberikan sebungkus nasi pada anggi
“ Rumahmu dimana?”
“ Di dekat rel , mandala”
“ Boleh kakak kesana ?”
“ Tentu saja boleh kakak. Tapi rumahku sederhana tak sebagus rumah yang lain ”
“ Tak apa, rumah yang bagus bukan segalanya. Jika rumah bagus tapi tak pernah ada kasih sayang untuk apa? ” ucapku membesarkan  hatinya
“ Kakak benar”
Ia makan begitu lahap, aku sangat senang melihatnya.
“ Anggi, apa yang kamu lihat tadi pagi di toko ?”
“ Sebentar lagi kita puasa dan aku ingin sekali bisa menyumbangkan bahan makanan untuk teman-teman yang sama sepertiku saat lebaran nanti dengan uang tabunganku”
“ Sungguh mulia hatimu , disaat kamu kekurangan pun , kamu masih mau berbagi dengan sesamamu. Andai semua orang sepertimu

Kami berjalan melewati rel tanpa palang dan penjaga menuju rumah anggi. Ia membawaku menuju rumahnya yang begitu munyil, hanya sebesar dapur rumahku. Di ruangan yang sangat kecil itu ia melakukan hampir semua aktivitasnya.
“ Nenek” sapanya pada perempuan tua yang sedang menjemur plastik didepan rumahnya
“ Kamu sudah pulang ngi”
“ Ia nek”
“ Ada tamu, rupanya ” ucap nenek ketika melihatku
“ Ini kak Ana, temen anggi”
“ Nek, kenalkan saya Ana”
 Setelah melihat semua itu keinginanku untuk menyekolahkannya makin besar.
“ Nek, aku berniat menyekolahkan anggi dan menggangkatnya menjadi adik. Apakah nenek mengizinkan?” pintaku
“ Nenek sih terserah anggi aja?”
“ Gimana anggi?”
“ Aku tentu mau kak”

Sebulan kemudian
Aku datang kerumah anggi untuk memberikan sepasang baru padanya. Namun aku tak menemukannya disana, nenek dan kakeknya juga telah mencarinya kemana-mana namun tak juga ketemu. Aku mendatangi tempat dimana ia sering mengamen namun teman-temannya tak ada yang mengetahui keberadaannya.
Dalam keputusasaanku, aku terduduk di trotoar. Disana aku mendengar ibu-ibu sedang bercerita tentang seorang gadis kecil yang di tabrak kereta api tadi pagi.
“ Tadi pagi” Ujarku kaget.
Aku mendatangi ibu-ibu itu.
“Apa yang ibu bilang itu benar?”
“Iya”
“Dimana mayat anak itu sekarang bu?” tanyaku
“Di rumah sakit Pringadi”
“ Kamu siapanya ?” Tanya ibu itu
“Dia mungkin adik yang aku cari” Jawabku lemas
Aku bergegas naik angkot menuju rumah sakit pringadi. Disana aku bertanya kepada suster
“ Maaf suster, kamar mayat dimana ya?”
“ Oh , itu mbak dari sini belok kiri”
“ Terima kasih sus”
Aku berjalan dengan harapan bahwa itu bukan anggi , adikku. Namun hatiku hancur. Kenyataan pahit kuterima. Kini di hadapanku terbaring seorang gadis kecil yang dulu selalu tersenyum padaku. Wajahnya penuh darah .
“ Ini hari ketiga sebelum lebaran adikku sayang” bisikku lirih
Air mata mengalir begitu deras hingga membasahi wajah anggi
“ Bangun anggi kakak bawa baju untuk kamu pakai waktu hari raya”
“ Kamu bilang kita akan membagikan makanan ke panti asuhan”
“ Ayo bangun adikku”
 Aku membawa anggi yang sudah tak bernyawa lagi kerumahnya. Disana ia disambut dengan isak tangis.
Aku tak mempercayai pemerintah tanpa sengaja menghilangkan nyawa adikku.
“Di tempat itu ia kehilangan kedua orang tuanya dan kini nyawanya sendiri? jeritku
Rel tanpa palang pintu dan penjaga membuat banyak nyawa menghilang.
“ Akankah tempat itu terus menjadi neraka bagi mereka yang tinggal di sisi rel kereta api? ”
“Mengapa  kamu meninggalkan kakak begitu cepat? Adikku sayang. Kakak akan melakukan hal yang ingin kamu lakukan. Semoga kamu tenang di sana . Selamat jalan adikku sayang”


Comments

Popular posts from this blog

Cabe jawa (piper retrofractum Vahl).

Tidak semua bisa kita miliki