Daruju
Daruju atau yang bernama latin acanthus ilicifolius L. berasal dari suku acanthaceae. Tumbuhan ini memiliki nama sinonim seperti A. doloariu Blanco., A. ebracteatus Val., A. volubilis Wall., Dilivarioa ilicifolia Nees. (Juss.). Di Indonesia tumbuhan ini memiliki nama yang berbeda yaitu jeruju (melayu) dan daruju (jawa). Tumbuhan ini juga memiliki nama asing seperti lao shu le (china), sea holly (inggris). Nama simplisia dari tumbuhan ini adalah acanthi radix (akar daruju).
Daruju merupakan tumbuhan liar yang tumbuh di daerah pantai, tepi sungai, serta tempat-tempat lain yang tanahnya berlumpur dan berair payau. Daruju termasuk semak tahunan, berbatang basah, tumbuh tegak atau berbaring pada pangkalnya, tingginya 0,5-2 m, berumpun banyak. Batang bulat silindris, agak lemas, permukaan licin, berwarna kecoklatan, berduri panjang dan runcing.
Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang. Helaian daun berbentuk memanjang atau lanset, pangkal dan ujung runcing, tepi bercanggap, menyirip dengan ujung-ujungnya berduri temple, panjang 9-30 cm, lebar 4-12 cm. Bunga majemuk berkumpul dalam bulir yang panjangnya 6-30 cm, keluar dari ujung batang, mahkota bunga berwarna ungu kebiruan. Buahnya berupa buah kotak, bulat telur, panjang ± 3 cm, berwarna cokelat kehitaman. Biji berbentuk ginjal, jumlahnya 2-4 buah. Akarnya berupa akar tunggang, berwarna putih kekuningan.
Daruju dapat diperbanyak dengan biji.
Sifat dan khasiat
Akar daruju rasanya pahit, sifatnya dingin, berkhasiat sebagai antiradang (antiflogistik) dan peluruh dahak (ekspetorans). Biji berkhasiat sebagai pembersih darah.
Kandungan kimia
Akar mengandung flavone dan asam amino.
Bagian yang digunakan
Bagian yang digunakan adalah akar, daun, dan biji. Sebelum digunakan cuci akar sampai bersih, iris tipis-tipis, lailu jemur sampai kering.
Indikasi
Akar digunakan untuk pengobatan radang hati (hepatitis) akut dan kronis, pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegali), gondongan (parotitis), sesak nafas (asma bronkial), cacingan, nyeri lambung, sakit perut, kanker terutama kenker hati dan pembesaran kelenjar limfe (limfadenopati), termasuk pembesaran kelenjar limfe pada tuberculosis (TBC) dan kulit (skrofuloderma).
Biji digunakan untuk pengobatan bisul dan cacingan.
Sumber: atlas tumbuhan obat Indonesia jilid 2.
Daruju merupakan tumbuhan liar yang tumbuh di daerah pantai, tepi sungai, serta tempat-tempat lain yang tanahnya berlumpur dan berair payau. Daruju termasuk semak tahunan, berbatang basah, tumbuh tegak atau berbaring pada pangkalnya, tingginya 0,5-2 m, berumpun banyak. Batang bulat silindris, agak lemas, permukaan licin, berwarna kecoklatan, berduri panjang dan runcing.
Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang. Helaian daun berbentuk memanjang atau lanset, pangkal dan ujung runcing, tepi bercanggap, menyirip dengan ujung-ujungnya berduri temple, panjang 9-30 cm, lebar 4-12 cm. Bunga majemuk berkumpul dalam bulir yang panjangnya 6-30 cm, keluar dari ujung batang, mahkota bunga berwarna ungu kebiruan. Buahnya berupa buah kotak, bulat telur, panjang ± 3 cm, berwarna cokelat kehitaman. Biji berbentuk ginjal, jumlahnya 2-4 buah. Akarnya berupa akar tunggang, berwarna putih kekuningan.
Daruju dapat diperbanyak dengan biji.
Sifat dan khasiat
Akar daruju rasanya pahit, sifatnya dingin, berkhasiat sebagai antiradang (antiflogistik) dan peluruh dahak (ekspetorans). Biji berkhasiat sebagai pembersih darah.
Kandungan kimia
Akar mengandung flavone dan asam amino.
Bagian yang digunakan
Bagian yang digunakan adalah akar, daun, dan biji. Sebelum digunakan cuci akar sampai bersih, iris tipis-tipis, lailu jemur sampai kering.
Indikasi
Akar digunakan untuk pengobatan radang hati (hepatitis) akut dan kronis, pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegali), gondongan (parotitis), sesak nafas (asma bronkial), cacingan, nyeri lambung, sakit perut, kanker terutama kenker hati dan pembesaran kelenjar limfe (limfadenopati), termasuk pembesaran kelenjar limfe pada tuberculosis (TBC) dan kulit (skrofuloderma).
Biji digunakan untuk pengobatan bisul dan cacingan.
Sumber: atlas tumbuhan obat Indonesia jilid 2.
Comments