Perlombaa burung surga
Sebuah kerajaan burung di dalam hutan akan diadakan perlombaan untuk mencari burung yang akan dinobatkan menjadi burung surga.
Pengumuman untuk semua burung penghuni kerajaan. Kerajaan akan mengadakan perlombaan untuk dinobatkan menjadi burung syurga. Siapapun bisa mendaftar.
“Aku ingin ikut.” merpati
“Aku juga” pipit
“Pasti aku yang menang. Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan buluku. Lihatlah” ujar Merak yakin
“Kamu jangan sombong. Masih ada cenderawasih dan murai yang juga memiliki bulu indah. Bulu milikku juga tidak kalah cantik” ujar kepodang
“Benar tuh” tambah pipit
Cendrawasih sedang terbang di atas danau. Ia melihat ada keramaian di tepi danau. Ia pun turun.
“Ada apa sehingga kalian kumpul disini?” tanya cendrawasih pada pipit
“Ada perlombaan burung surga. Kamu ikut kan?” ujar pipit
“Aku tidak terbiasa menjadi pusat perhatian orang diatas panggung”
“Oh, iya kamu dari mana?” tanya kepodang
“Aku dari tempat bibiku. Aku pergi dulu. Ibu pasti sudah menungguku” ujar Cendrawasih yang kemudian kembali menghilang di balik pepohonan.
Di perjalanan pulang ke rumahnya cenderawasih melewati sungai dengan arus deras. Sayup-sayup dia mendengar suara.
“Tolong… tolong” teriak semut yang tubuhnya naik turun di dalam air.
Cenderawasih terbang lebih rendah. Ia mencari asal suara. Di tengah sungai ada seekor semut yang berusaha agar tidak tenggelam. Cenderawasih segera mencari daun.
“Semut naiklah ke atas daun ini” ujar Cendrawasih seraya mencengkram daun itu.
“Berpeganganlah aku akan membawamu ke tepi” tambahnya
“Baiklah”
Cendrawasih lalu membawa semut terbang dan menurunkannya di tepi sungai.
“Terima kasih cendrawasih”
“Sama-sama. Aku pergi dulu. Lain kali jangan main ke sungai jika kamu tidak bisa berenang” ujar Cenderawasih yang kemudian kembali terbang.
Keesokan paginya cenderawasih berjalan-jalan mengelilingi hutan. Ketika berada pinggir hutan. Ia mendengar suara tangisan. Ia pun terbang lebih rendah di atas lantai hutan. Ia melihat seekor anak burung sedang terluka di lantai hutan.
“Kamu kenapa anak tekukur?” tanya cenderawasih
“Aku terjatuh dari sarang. Aku mencoba belajar mengepakkan sayap namun aku terlalu dekat ke pinggir dan terpeleset” ujar anak terkukur
“Tunggu sebentar” ujar cenderawasih. Kemudian ia kembali dengan membawa rumput-rumput kering. Rumput-rumput itu dianyam membentuk keranjang.
“Naiklah ke keranjang ini” ujar cendrawasih.
Setelah anak tekukur naik ke keranjang. Cendrawasih membawanya terbang dan meletakkan anak burung tekukur di dahan sarangnya.
“Terima kasih cendrawasih” ujar anak tekukur yang telah turun dan kembali ke sarangnya.
“Jangan belajar terbang sendirian. Tunggulah ibu dan ayahmu jika ingin belajar terbang” ujar Cenderawsih. Kemudian ia pergi meninggalkan anak tekukur.
“Baiklah”
Acara perlombaan
Semua burung berkumpul untuk menyaksikan acara perlombaan.
“Selamat datang di acara pencarian burung surga. Tidak perlu berlama-lama lagi mari kita mulai acaranya. Untuk peserta pertama mari kita panggilkan merak.” ujar perkutut.
Merak menaiki panggung. Di panggung ia menunjukkan keindahan bulu-bulunya dan kemampuannya dalam bernyanyi. Semua burung terpukau dan memberi tepuk tangan.
“Setelah menyaksikan merak sekarang kita panggilkan peserta berikutnya kepodang.” ujar perkutut ketika merak telah turun dari panggung.
Kepodang menaiki panggung dan menunjukkan keindahan bulu beserta kemampuannya.
“Kalian lihat tadi. Apa kalian lihat para penonton yang kagum dengn keindahan buluku? Aku yakin pasti aku yang menang. Jadi kalian tidak usah repot-repot untuk ikut dalam perlombaan” ujar merak ketika berada di belakang panggung.
“Jangan yakin dulu. Lihat kepodang juga tidak kalah denganmu” ujar merpati
Matahari mulai menggeser ke arah barat. Kita akan panggilkan peserta terakhir kita cenderawasih.
“Aku…” ujar cenderawasih terkejut.
“Tapi aku tidak mendaftar” tambah cenderawasih
“Aku yang mendaftarkanmu. Ayo cepat naik” ujar beo
Cenderawasih menunjukkan bulu indahnya dan kemampuannya dengan malu-malu.
Saya akan mengumumkan keputusan juri tentang pemenang untuk mendapatkan gelar burung surga.
“Juri memutuskan merak dan cenderawasih sebagai pemenangnya. Kita mendapat 2 pemenang” ujar perkutut.
“Tunggu dulu.” Ujar rajawali, raja para burung. Rajawali turun dari tahtanya dan menuju panggung.
“Karena pemenangnya ada 2, saya sebagai raja akan memberikan kepada rakyat saya hak untuk memilih pemenang dalam kontes ini”
“Siapkan kertas dan kotak pemilihan” perintah raja.
Satu jam kemudian kertas dan kotak pemilihan telah tersedia di dekat panggung.
Semua burung kembali berkumpul.
“Satu persatu hadirin diharapkan masuk ke dalam kotak pemilihan.” Pinta perkutut.
Satu persatu dari burung itu menentukan pilihannya.
“Sekarang saatnya kita melakukan perhitungan suara” ujar perkutut ketika semua burung telah memberikan suaranya.
“Cenderawasih”
“Merak”
Satu persatu surat suara itu dibacakan oleh perkutut.
“Inilah suara yang terakhir.. Siapakah yang jadi pemenangnya?”
Tak ada suara yang terdengar selain suaraa dari perkutut. Perkutut membuka surat suara itu perlahan.
“Cenderawasih” teriaknya kemudian.
“Sekarang kita telah mendapatkan pemenangnya. Cenderawasih diharapkan naik ke atas panggung”
“Hore….” Sorak sorai
Cenderawasih naik ke panggung. Sang Rajawali menobatkannya sebagai burung surga.
“Selamat cenderawasih” ujar sang raja wali
“Kamu jangan terlalu sombong. Kamu memang cantik tapi cenderawasih lebih cantik” ujar merpati
Pengumuman untuk semua burung penghuni kerajaan. Kerajaan akan mengadakan perlombaan untuk dinobatkan menjadi burung syurga. Siapapun bisa mendaftar.
“Aku ingin ikut.” merpati
“Aku juga” pipit
“Pasti aku yang menang. Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan buluku. Lihatlah” ujar Merak yakin
“Kamu jangan sombong. Masih ada cenderawasih dan murai yang juga memiliki bulu indah. Bulu milikku juga tidak kalah cantik” ujar kepodang
“Benar tuh” tambah pipit
Cendrawasih sedang terbang di atas danau. Ia melihat ada keramaian di tepi danau. Ia pun turun.
“Ada apa sehingga kalian kumpul disini?” tanya cendrawasih pada pipit
“Ada perlombaan burung surga. Kamu ikut kan?” ujar pipit
“Aku tidak terbiasa menjadi pusat perhatian orang diatas panggung”
“Oh, iya kamu dari mana?” tanya kepodang
“Aku dari tempat bibiku. Aku pergi dulu. Ibu pasti sudah menungguku” ujar Cendrawasih yang kemudian kembali menghilang di balik pepohonan.
Di perjalanan pulang ke rumahnya cenderawasih melewati sungai dengan arus deras. Sayup-sayup dia mendengar suara.
“Tolong… tolong” teriak semut yang tubuhnya naik turun di dalam air.
Cenderawasih terbang lebih rendah. Ia mencari asal suara. Di tengah sungai ada seekor semut yang berusaha agar tidak tenggelam. Cenderawasih segera mencari daun.
“Semut naiklah ke atas daun ini” ujar Cendrawasih seraya mencengkram daun itu.
“Berpeganganlah aku akan membawamu ke tepi” tambahnya
“Baiklah”
Cendrawasih lalu membawa semut terbang dan menurunkannya di tepi sungai.
“Terima kasih cendrawasih”
“Sama-sama. Aku pergi dulu. Lain kali jangan main ke sungai jika kamu tidak bisa berenang” ujar Cenderawasih yang kemudian kembali terbang.
Keesokan paginya cenderawasih berjalan-jalan mengelilingi hutan. Ketika berada pinggir hutan. Ia mendengar suara tangisan. Ia pun terbang lebih rendah di atas lantai hutan. Ia melihat seekor anak burung sedang terluka di lantai hutan.
“Kamu kenapa anak tekukur?” tanya cenderawasih
“Aku terjatuh dari sarang. Aku mencoba belajar mengepakkan sayap namun aku terlalu dekat ke pinggir dan terpeleset” ujar anak terkukur
“Tunggu sebentar” ujar cenderawasih. Kemudian ia kembali dengan membawa rumput-rumput kering. Rumput-rumput itu dianyam membentuk keranjang.
“Naiklah ke keranjang ini” ujar cendrawasih.
Setelah anak tekukur naik ke keranjang. Cendrawasih membawanya terbang dan meletakkan anak burung tekukur di dahan sarangnya.
“Terima kasih cendrawasih” ujar anak tekukur yang telah turun dan kembali ke sarangnya.
“Jangan belajar terbang sendirian. Tunggulah ibu dan ayahmu jika ingin belajar terbang” ujar Cenderawsih. Kemudian ia pergi meninggalkan anak tekukur.
“Baiklah”
Acara perlombaan
Semua burung berkumpul untuk menyaksikan acara perlombaan.
“Selamat datang di acara pencarian burung surga. Tidak perlu berlama-lama lagi mari kita mulai acaranya. Untuk peserta pertama mari kita panggilkan merak.” ujar perkutut.
Merak menaiki panggung. Di panggung ia menunjukkan keindahan bulu-bulunya dan kemampuannya dalam bernyanyi. Semua burung terpukau dan memberi tepuk tangan.
“Setelah menyaksikan merak sekarang kita panggilkan peserta berikutnya kepodang.” ujar perkutut ketika merak telah turun dari panggung.
Kepodang menaiki panggung dan menunjukkan keindahan bulu beserta kemampuannya.
“Kalian lihat tadi. Apa kalian lihat para penonton yang kagum dengn keindahan buluku? Aku yakin pasti aku yang menang. Jadi kalian tidak usah repot-repot untuk ikut dalam perlombaan” ujar merak ketika berada di belakang panggung.
“Jangan yakin dulu. Lihat kepodang juga tidak kalah denganmu” ujar merpati
Matahari mulai menggeser ke arah barat. Kita akan panggilkan peserta terakhir kita cenderawasih.
“Aku…” ujar cenderawasih terkejut.
“Tapi aku tidak mendaftar” tambah cenderawasih
“Aku yang mendaftarkanmu. Ayo cepat naik” ujar beo
Cenderawasih menunjukkan bulu indahnya dan kemampuannya dengan malu-malu.
Saya akan mengumumkan keputusan juri tentang pemenang untuk mendapatkan gelar burung surga.
“Juri memutuskan merak dan cenderawasih sebagai pemenangnya. Kita mendapat 2 pemenang” ujar perkutut.
“Tunggu dulu.” Ujar rajawali, raja para burung. Rajawali turun dari tahtanya dan menuju panggung.
“Karena pemenangnya ada 2, saya sebagai raja akan memberikan kepada rakyat saya hak untuk memilih pemenang dalam kontes ini”
“Siapkan kertas dan kotak pemilihan” perintah raja.
Satu jam kemudian kertas dan kotak pemilihan telah tersedia di dekat panggung.
Semua burung kembali berkumpul.
“Satu persatu hadirin diharapkan masuk ke dalam kotak pemilihan.” Pinta perkutut.
Satu persatu dari burung itu menentukan pilihannya.
“Sekarang saatnya kita melakukan perhitungan suara” ujar perkutut ketika semua burung telah memberikan suaranya.
“Cenderawasih”
“Merak”
Satu persatu surat suara itu dibacakan oleh perkutut.
“Inilah suara yang terakhir.. Siapakah yang jadi pemenangnya?”
Tak ada suara yang terdengar selain suaraa dari perkutut. Perkutut membuka surat suara itu perlahan.
“Cenderawasih” teriaknya kemudian.
“Sekarang kita telah mendapatkan pemenangnya. Cenderawasih diharapkan naik ke atas panggung”
“Hore….” Sorak sorai
Cenderawasih naik ke panggung. Sang Rajawali menobatkannya sebagai burung surga.
“Selamat cenderawasih” ujar sang raja wali
“Kamu jangan terlalu sombong. Kamu memang cantik tapi cenderawasih lebih cantik” ujar merpati
Comments