Asal mula kota cianjur, cerita rakyat dari tanah pasundan, jawa barat
Di
sebuah desa di daerah Pasundan, hiduplah seorang lelaki kaya raya bersama
anaknya. Lelaki itu memiliki hampir semua ladang dan sawah yang ada di desa
tersebut. Penduduk desa bekerja padanya sebagai buruh tani. Ia dipanggil dengan
pak kikir oleh para penduduk desa karena sifatnya yang sulit menolong orang
lain.
Hamparan
padi mulai menguning di areal persawahan. Pemandangan itu terlihat sangat
indah, berkilau saat di terpa sinar sang surya. Beberapa petani sedang memanen
padi di sawah.
“Hasil
panen kali ini bagus” ujar pak tani
“Iya,
lebih bagus dari hasil panen musim lalu. Setelah semua panen ini selesai, akan ada
pesta syukuran di rumah pak kikir seperti panen sebelumnya” ujar bu tani
“Pasti.
Namun makanannya akan tetap sama seperti setiap kali acara pesta syukuran”
tambah pak tani
“Iya.
Pak kikir terlalu pelit untuk menyediakan makanan enak di acara syukuran hasil
panen. Padahal hasil panen selalu melimpah dan lebih baik dari panen sebelumnya”
ujar bu tani seraya meluruskan tubuhnya
“Hust…..hust…Itu
ada pak kikir yang sedang berjalan kemari” ujar pak tani
“Ayo
kita lanjut bekerja lagi” tambah pak tani
Setiap
selesai panen, pak kikir selalu mengadakan pesta syukuran dengan harapan hasil
panen yang lebih baik dari panen sebelumnya. Rumah pak kikir dipenuhi oleh para
undangan yang berasal dari para penduduk desa. Jamuan pesta syukuran diletakkan
di atas meja yang berada di teras rumahnya. Kedua meja itu berisi makanan
jamuan sederhana. Beramai-ramai penduduk desa datang ke rumah pak kikir. Makanan
di atas meja sudah habis separuhnya. Masih ada beberapa
“Makanannya
hampir habis” ujar penduduk yang baru saja datang ke rumah pak kikir
“Iya.
Sepertinya pak kikir masih saja kikir. Padahal hasil panen kali ini lebih bagus
dari panen sebelumnya. Kali ini kita mungkin tidak dapat mencicipi makanan itu”
ujar salah satu penduduk yang baru datang
Seorang
nenek tua datang ke pesta syukuran yang sedang berlangsung. Ia menjumpai pak
kikir.
“Permisi
pak. Bersediakah bapak memberikan saya sedikit makanan. Saya sangat lapar.
Sudah seharian saya belum makan” ujar sang nenek terbata-bata.
“Pergi
dari sini. Tidak ada makanan untukmu” ujar pak kikir seraya menunjuk ke arah
pintu pagar
Sang
nenek berjalan menuju pintu pagar dengan hati terluka. Anak pak kikir berjalan
menuju meja jamuan. Ia mengambil makanan dan membungkusnya di dalam kain. Ia
berjalan mengikuti sang nenek
“Nek…
nenek” panggilnya
Sang
nenek menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
“Ini
ada sedikit makanan untuk nenek” ujar anak pak kikir seraya memberikan
bungkusan itu pada nenek itu.
Nenek
itu mengambil bungkusan yang diberikan anak pak kikir. “Terima kasih. Semoga
kamu menjadi orang yang terus hidup dalam kemuliaan” ujarnya kemudian.
Sang
nenek kembali melanjutkan perjalanannya dengan membawa bungkusan itu. Di sebuah
bukit ia beristirahat di bawah pohon. Ia memakan isi bungkusan yang diberikan
oleh anak pak kikir. Matanya memandang ke arah desa. Ia melihat rumah pak kikir
yang besar dan megah. Teringat kembali apa yang baru saja dialaminya. Kemarahan
di dalam hatinya kembali.
Ia
berdoa “Ya tuhan, berilah balasan pada seseorang yang kikir dan serakah seperti
pak kikir”
Sang
nenek kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah lalu ia mencabutnya lagi. Dari
tempat ia mencabut tongkatnya keluar air yang semakin deras mengalir ke arah
desa pak kikir.
“Air
datang…air datang dari bukit cepat selamatkan diri kalian…” ujar salah seorang
penduduk yang melihat air mengalir dari bukit
Semua
penduduk panik. Mereka berlari tak tentu arah.
“Tenang..”
teriak anak pak kikir
Semua
penduduk berhenti.
“Sekarang
bawa semua keluarga kalian untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih
tinggi, di bukit itu” pinta anak pak kikir seraya menunjukkan salah satu bukit
yang ada di sekitar desa
“Tapi
ternak kami” ujar salah satu penduduk
“Tinggalkan
saja. Nyawa kalian lebih berharga dari semua itu” ujar anak pak kikir
Penduduk
mulai berlari ke arah bukit. Anak pak kikir tidak melihat ayahnya. Ia berlari
ke dalam rumah untuk mencari ayahnya. Ia melihat ayahnya menaruh beberapa emas
dan harta yang lain ke dalam bungkusan.
“Ayah,
ayo kita pergi air akan semakin tinggi” ajak anak pak kikir
“Aku
tidak akan pergi tanpa hartaku” ujar pak kikir
“Harta
itu bisa kita cari lagi, yah” ujar anak pak kikir
“Jika
ingin pergi pergilah. Ayah akan tetap di sini” ujar pak kikir
Sang
anak akhirnya meninggalkan pak kikir. Ia berlari ke arah bukit dan mendakinya. Penduduk
desa yang telah tiba di bukit memadang desa mereka yang terendam banjir.
“Desa
kita rata dengan air” ujar penduduk desa
“Ayah….”
Teriak anak pak kikir setelah berada di atas bukit dan melihat desanya yang
terendam banjir
“Sekarang
kita akan tinggal dimana?” tanya penduduk desa dengan wajah sedih. Ia memeluk
anaknya
“Kita
akan mencari tempat baru” ujar anak pak kikir yakin
Mereka
berjalan menyusuri bukit hingga tiba di sebuah tempat. Tempat itu memiliki
tanah yang subur dengan vegetasi tamanan yang beraneka ragam.
“Di
sini. Kita akan membuka tempat ini dan menjadikannya sebagai desa” ujar anak
pak kikir.
“Tanah
di sini sepertinya subur. Juga tidak terlalu jauh dari sumber mata air” ujar
salah seorang penduduk
“Kita
akan memilih kepala desa yang baru” saran seorang kakek, yang merupakan
penduduk
“Gimana
jika anak pak kikir yang menjadi kepala desa?” usul salah satu penduduk
“Setuju”
ujar penduduk secara serentak
Di
tempat itu anak pak kikir diangkat sebagai pemimpin di desa yang baru mereka.
“Kamu
bersedia menjadi kepala desa dan membimbing kami?” tanya salah satu penduduk
“Baiklah
jika itu yang kalian inginkan. Aku akan memikul tanggung jawab itu” ujar anak
pak kikir meyetujui
“Besok
kita akan membuka lahan ini. Setiap keluarga akan mendapatkan lahan untuk
pertanian dengn ukuran yang sama” tambah anak pak kikir
Tanah
di desa baru itu di bagi per kepala keluarga untuk ditanami.
Keesokan
harinya
Mereka
membersihkan tanah dari tumbuhan yang menutupinya. Anak pak kikir mengajarkan
bagaimana cara menggarap tanah yang akan menjadi sawah dan cara menanam padi.
“Kita
cangkul dulu tanahnya. Lalu kita aliri dengan air. Bibit padi kita semai dahulu
setelah itu baru kita tanam” ujar anak pak kikir
Para
penduduk desa menyimak hal yang disampaikan oleh anak pak kikir dan
melakukannya.
Penduduk
menuruti anjuran pemimpin mereka, kemudian tempat ini dinamakan desa anjuran.
Desa ini kemudian menjadi kota kecil dan dikenal sebagai kota cianjur.
Comments