Alergi, musuh yang menghambat tumbuh kembang anak
ASI adalah nutrisi anak yang pertama kali didapatnya. Nutrisi ini berfungsi untuk tumbuh kembang anak sehingga pertumbuhan
otak, system percernaan dan daya tahan tubuhnya dapat berkembang optimal. Nutrisi
yang tepat berdampak panjang hingga anak dewasa. Dengan pemberian nutrisi yang
tepat anak akan mempengaruhi resiko penyakit di masa yang akan datang seperti
obesitas, stunting, diabetes, alergi dan penyakit jantung.
Namun tidak semua anak beruntung dapat mendapatkan
nutrisi berupa ASI. Sehingga orang tua yang tidak bisa memberikan ASI memilih
susu sapi sebagai pengganti ASI. Tahukah anda jika susu sapi dapat menyebabkan
alergi pada anak? 1 dari 12 anak memiliki risiko alergi protein susu
sapi. Namun 1 dari 25 anak mengalami alergi terhadap protein susu sapi. Jumlah
yang besar bukan?
Resiko anak menderita alergi protein susu sapi dapat
di lihat dari riwayat alergi pada keluarganya.
1. Jika
kedua orang tua memiliki riwayat alergi maka anak memiliki 40-80 % resiko
alergi protein susu sapi.
2. Jika
salah satu orang tua yang memiliki riwayat alergi maka anak memiliki 20-30%
resiko alergi protein susu.
3. Jika
saudara dari orang tua yang memiliki
riwayat alergi maka anak memiliki 25-30% resiko alergi protein susu.
4. Jika
orang tua tidak memiliki riwayat alergi maka anak memiliki 5-15% resiko alergi
protein susu
Susu sapi yang diperuntukkan bagi bayi adalah susu
yang telah diformulasikan dan disesuaikan dengan pencernaan bayi normal. Namun
pencernaan anak yang memiliki bakat alergi tidak dapat menerima protein susu
sapi dengan baik, sehingga terjadilah alergi.
Upaya yang bisa dilakukan adalah mengukur faktor
resiko alergi yang dimiliki anak, mengenali gejala-gejala alergi dan pemberian
penanganan yang tepat terhadap alergi. Penangan sedini mungkin terhadapa resiko alergi
protein susu sapi sangat penting sehingga anak terhindar dari dampak panjang
alergi. Alergi protein susu sapi tidak memiliki gejala yang spesifik sehingga
sulit dideteksi. Orang tua harus mampu mengenali gejala klinis dari alergi
tersebut.
Gejala klinis dari alergi protein susu sapi yaitu:
a. Gejala
pada kulit
Gejala pada kulit terlihat dari
munculnya bentol merah yang berisi cairan, kulit kering dan gatal.
b. Gejala
pada saluran pencernaan
Gejala yang terjadi pada saluran
pencernaan adalah muntah, kolik, diare dan BAB yang disertai tinja berdarah.
c. Gejala
pada saluran pencernaan
Gejala yang terjadi adalah
bersin-bersin disertai gatal di hidung, hidung tersumbat, ingus encer, batuk
berulang dan gejala asma (sesak nafas dan nafas berbunyi).
Anak dengan resiko alergi protein susu sapi akan
memberikan reaksi abnormal terhadap MPASI dan makanan seimbang yang mengandung
protein susu sapi karena interaksi antara satu atau lebih protein susu sapi
dengan salah satu atau lebih mekanisme kekebalan tubuh yang dimilikinya. Alergi
ini termasuk alergi makanan.
Alergi pada anak merupakan masalah yang sangat
penting. Anak yang menderita alergi
secara tidak langsung akan terganggu tumbuh kembangnya. Jika anak telah mengalami alergi susu sapi, akan ada
kemungkinan ia akan alergi dengan makanan yang lain seperti telur,
kacang-kacangan, makanan laut dan gandum. Anak dengan alergi makanan akan
mengalami gangguan pertumbuhan yang berhubungan dengan asupan makanannya.
Perlakuan yang salah terhadap alergi makanan yang diderita oleh anak
menyebabkan anak akan kekurangan gizi. Untuk anak yang mengalami alergi makanan
ada baiknya melakukan pemilihan makanan yang memiliki nilai gizi yang sama
dengan makanan yang menjadi alerginya.
Dapat juga melakukan intervensi nutrisi yang tepat
untuk mencegah paparan allergen dan memastikan pertumbuhan dan perkembangan
anak tidak terganggu serta mengidentifikasi dan menangani masalah gangguan
gizi. Ketika Anda sudah mengenali gejala alergi, maka
pemberian nutrisi yang tepat harus dilakukan sehingga tumbuh kembang anak tidak
terganggu.
Yang bisa anda lakukan adalah:
1. Memberikan
susu dengan protein terhidrolisis parsial. Susu ini adalah sebuah hasil dari
teknologi yang di toleransi tubuh dan mudah di cerna sehingga dapat
memberikan nutrisi dengan asupan protein
yang dibutuhkan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan yang optimal pada anak.
2. Pencegahan
untuk anak yang terpapar allergen
Alternatifnya adalah pemberian
formula dengan isolate protein kedelai. Tumbuh kembang anak yang mengkonsumsi
formula dengan isolate protein kedelai tidak berbeda secara signifikan dengan
yang mengkonsumsi susu sapi.
Alergen bisa berasal dari makanan,
debu rumah, dan bulu binatang. Alergen bisa mencetuskan berbagai jenis alergi
dengan frekuensi alergi yang berbeda-beda. Dampak alergi tidak hanya dirasakan
oleh penderita tetapi juga oleh keluarga penderita.
3. Pencegahan
untuk anak yang sudah terkena dampak dari alergi, dengan tujuan agar alergi
tidak berulang, bertambah berat, maupun tidak terbawa hingga dewasa.
Contohnya: Menghindari makanan yang
mengandung protein susu sapi. Ada baiknya sebelum membeli olahan makanan
perhatikan daftra gizinya.
Kenali alergi yang ada dan lakukan pengangan yang
tepat. Pastikan anda memberikan nutrisi
yang tepat untuk tumbuh kembang anak anda. Penanganan alergi sejak dini dapat mencegah dapak
jangka panjang bagi tumbuh kembang anak.
Hal ini penting untuk masa depannya.

Comments